Contoh Teks Anekdot Pendidikan

  Sedang bingung membuat anekdot yang membahas mengenai pendidikan? Tidak perlu khawatir, berikut adalah contoh teks anekdot pendidikan yang bisa Anda jadikan referensi ketika hendak membuat teks anekdot.

Contoh teks anekdot pendidikan di bawah ini akan membahas kegelisahan seorang mahasiswa dalam menempuh pendidikan. Terdapat kritik tersembunyi yang ada dalam curahan teks anekdot di bawah ini. berikut ulasannya.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan “Surat Cinta untuk Adik Mahasiswa”

Teks Anekdot Pendidikan

Tabik!

Beberapa saat lagi kampus-kampus akan disibukkan dengan beragam agenda yang berhubungan dengan anak didik baru: SNMPTN, SBMPTN, seleksi mandiri, Ospek dll.

Ya, seperti biasanya, yang namanya para calon mahasiswa pasti ia akan datang dengan segenggam asa. Ia datang dengan sepercik harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu orang yang berada di kerumunan itu mungkin kau, adikku.

Seperti katamu dahulu, kau ingin membanggakan orang tua. Masuk kuliah tentu menjadi salah satu caramu, bukan? Tapi aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu, adikku.

Kau pasti melihat, ada berita demonstrasi beberapa waktu yang lalu, bukan? Ya, demo di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota kakakmu ini menimba pengalaman. Banyak sekali tuntutan yang hampir seluruhnya berkaitan dengan uang.

Uang. Iya, uang. Banyak yang menilai, biaya pendidikan di negara kita ini memang sangat mahal. Apalagi setelah diberlakukannya sistem pembayaran yang bernama Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Kelak, jika kau jadi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), kau akan mengetahuinya. Nah, sekarang simak surat dari kakakmu ini terlebih dahulu.

Apakah pendidikan hanya dikhususkan bagi orang kaya? Ah, sama sekali tidak, adikku. Ini tinggal bagaimana cara kita memaknai pendidikan.

 Jika kau memaknai pendidikan sebagai sebuah interaksi antara guru-murid atau mahasiswa-dosen dalam satu ruang kelas, maka pemaknaanmu terlalu sempit. Sangat sempit.

Sedikit bocoran, adikku. Kakakmu ini adalah salah seorang mahasiswa yang ogah-ogahan masuk kelas.

Ya, seringkali kakakmu merasa bosan berada di ruang kelas, mendengar presentasi kelompok lain dan tak jarang presentasinya membuat kakak menjadi jenuh. Walhasil, kakak lebih sering piknik.

Lihat saja akun instagram kakakmu ini. Mulai gunung, laut, sampai dinding rumah orang jadi latar menarik. Walaupun begitu, nilai kakakmu tidaklah buruk. Masih di atas 3.5 IPK-nya dari nilai maksimal 4.0.

Kakakmu ini lebih sering berkegiatan di luar, berinteraksi langsung dengan masalah yang sepele. Barangkali untuk sebagian besar mahasiswa berpikir ogah mengurus hal-hal sepele karena namanya juga sudah ‘maha’!!!

Kembali lagi ke soal biaya, adikku. Kakak ingin mengutip perkataan salah seorang teman kakak yang menuntut pendidikan murah dan inklusif alias terbuka bagi siapa saja.

Pendidikan saat ini disebutnya masih sangat eksklusif karena hanya bisa diakses oleh sebagian kecil orang dan biayanya sangat mahal. Temanku pernah bercerita jika demi kuliahnya, orang tuanya sampai menjual 4 ekor kambing dan juga sebidang tanah.

Nah, cerita dari teman kakak inilah yang mendorong kakak menulis surat ini. Kakak perlu menyampaikan kepada adik-adik semua sebelum kau benar-benar memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Pertama, ruang kelas sangat terbatas. Kau harus berpikir realistis peluang masuk perguruan tinggi, lebih-lebih negeri, sangat tipis. Kakak pernah mendengar ceramah rektor jika dari 90.000 pendaftar di kampus kakak, hanya 3000 orang yang berhak masuk ke universitas.

Jumlah tersebut dari tahun ke tahun semakin dibatasi karena jumlah anak didik yang masuk tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang keluar. Ya, kampus bukan seperti SMA yang dibatasi waktu 3 tahun harus selesai.

Di kampus kakak banyak sekali mahasiswa yang sudah sangat lama kuliah. Tak masalah, toh yang penting sudah bayar. Mahal lagi. Mengenai peluang untuk adik-adik yang ingin masuk ke PTN yang makin kecil, ya itu bukan urusan mahasiswa lama. Di sini perjuanganmu akan sangat berat.

Kedua, soal biaya mahal, jangan khawatir. Di kampus kakak dan juga kampus lainnya ada banyak tawaran beasiswa. Model pemberian beasiswanyanya pun beragam, ada yang seleksinya sangat mudah, sampai yang sulit.

Ya, inilah persaingan, dik. Kelak, jika kau jadi masuk perguruan tinggi dan mendapat beasiswa, gunakan biaya dari pemerintah atau perusahaan itu untuk mendukung belajarmu. Jangan seperti teman kakak yang dapat beasiswa malah digunakan untuk beli gadget.

Padahal itu jenis beasiswa miskin yang diambil dari pembayaran pajak masyarakat. Bahkan seorang pemulung juga membayar pajak untuk rumahnya. Masak kau tega, jika bayaran mereka digunakan untuk foya-foya?

Tak kalah penting, jika kelak kau masuk perguruan tinggi, bergabunglah di organisasi. Apapun organisasi itu, yang penting tidak melupakan tujuan awalmu masuk kuliah.

Bukannya kakak melarangmu untuk mengikuti jejak Pak Seno yang suka berorganisasi dan sekarang jadi gubernur dan mengatakan kalau dulunya ia kuliah 10 tahun. Lha wong dulu belum ada S2 dan minat masuk kampus belum seramai sekarang.

Sekarang kalkulasi saja berapa biaya yang harus dibayar orang tua jika kau menunda kelulusanmu. Katakanlah dalam satu bulan kau habis 1,5 juta untuk bayar kost, listrik, bensin, dan jatah makan.

Satu bulan menunda kelulusan, sama dengan menambah biaya 1,5 juta. Bagaimana jika setahun? Kau bisa beli motor.

Jika kelak kau masuk ke perguruan tinggi negeri dan bergabung di organisasi, berjuanglah untuk jadi leader. Berjuanglah untuk menjadi pemimpin yang amanah. Ingat, seluruh biaya berasal dari kita sendiri.

Biaya mahal adalah karena kebutuhan kita meningkat. Jika dana untuk organisasi tidak digunakan sebagaimana mestinya, sama saja kita mengkhianati diri sendiri. Tuhan sangat benci pada pengkhianat.

Jangan ragu-ragu turun ke jalan untuk berdemonstrasi jika memang perlu. Tapi jadilah demonstran yang cerdas. Jadilah demonstran yang tidak merugikan orang lain demi eksistensi diri sendiri.

Tak perlu memasang wajah serius, berorasi, mengutuk pemerintah tapi minta difoto oleh temanmu menggunakan iPhone yang dibeli dari dana beasiswa, untuk diupload di media sosial. Karena hal itu bisa bikin riya' dan mereduksi nilai-nilai perjuanganmu.

Ah, surat kakak malah ngelantur ngalor ngidul. Yang jelas, ini pesan kakak padamu, jangan sekali-kali merelakan sebidang tanah dijual untuk biaya kuliah. Jika itu dilakukan, sungguh besar tanggung jawab yang kau emban pada orang tua.

Mengecewakan mereka adalah dosa yang sangat besar. Kau tentu ingat bahwa doa orang tua sangat tajam. Kalau merasa biaya kuliah sangat mahal, cari beasiswa yang bisa membayar penuh.

Kalau tak mampu menembus beasiswa karena gagal seleksi dan tidak mau bayar mahal, tak perlu kuliah. Beli saja buku di toko-toko. Soal peluang kerja? Ah, kuliah sama sekali tak menjamin.

Toh, di bangku kuliah, kau akan banyak menemukan orang-orang yang berkata bahwa kuliah tidak penting. Saking nggak pentingnya, mereka menganggap tabu orang yang rajin ngampus.

Tapi pada akhirnya jika hidayah datang, semua mahasiswa akan menyelesaikan 144 SKSnya. So, daripada menunda-nunda, lebih baik penuhi segala kewajiban. Kuliahlah pada bidang yang kau inginkan.

Jika gagal, dan kau mau mengambil bidang lain, jangan gengsi untuk mengubah rencana hidupmu. Tak perlu menjadi orang yang idealis untuk urusan pekerjaan. Asal halal dan mampu kau kerjakan, lakukan! Kakak dulu juga ingin jadi pilot.

Sekian dulu, ya adikku. Kapan-kapan kakak sambung lagi.

Seperti itulah ulasan mengenai contoh teks anekdot pendidikan. Contoh teks di atas diambil dari referensi Academic Indonesia. Semoga bermanfaat.