Tafsir Al-Baqarah 156 Menurut Beberapa Pendapat Mufassir

Bacaan doa istirja’ juga terdapat dalam Al-Qur’an, yakni pada QS. Al-Baqarah: 156. Ayat tersebut memiliki makna tersendiri yang wajib dipahami oleh umat Islam. Dalam hal ini, para Mufassir atau ahli tafsir memiliki pandangan masing-masing terkait tafsir Al-Baqarah 156. Berikut penjelasannya:

1. Tafsir Al-Muyassar

Berdasarkan tafsir Al-Muyassar atau kementerian Agama Saudi Arabia, surat Al-Baqarah ayat 156 memiliki arti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Sehingga, Allah pun dapat memperlakukan hamba-Nya dan semua miliknya sesuai keinginanNya sebagaimana dimaksud dalam ayat tersebut.

Kemudian, segala sesuatu juga pasti akan kembali kepada sang Pencipta, entah sekarang ataupun nanti hingga kiamat tiba. Seluruh hamba akan menuju kepada alam yang lebih kekal. Sehingga, Dia sebagai tempat kembali seluruh penghuni alam. Karenanya, kita harus senantiasa mengingat.

2. Tafsir Jalalayn

Menurut tafsir Jalalayn, lafadz dalam QS Al-Baqarah 156 tersebut ditujukan untuk orang-orang yang tertimpa musibah bencana atau malapetaka dengan mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun. Sehingga, hal ini sama dengan berdoa dan mengingat sang Pencipta yang Maha Kuasa.

Bahkan terdapat sebuah hadist riwayat Abu Dawud yang dikisahkan oleh Aisyah, bahwa dengan mengucapkan lafadz tersebut selain selamat dari musibah, juga dapat memberi pahala kepada manusia dan diiringi kebaikan dari Allah SWT.

3. Tafsir Quraish Shihab

Tafsir Al-Baqarah 156 berdasarkan pendapat Quraish Shihab adalah seseorang hendaknya meyakini bahwa segala sesuatu, seperti kebaikan dan keburukan apapun hakikatnya berasal dari Allah SWT. Maka hendaknya senantiasa mengucapkan innalillahiwainnailaihirojiun.

Mengucapkan lafadz tersebut harus dibarengi dengan keikhlasan, kesabaran dan mengharap ridha serta pahala dari Allah SWT semata. Sehingga, orang-orang beriman akan mengucapkannya ketika ditimpa musibah apapun.

4. Tafsr Min Fathil Qadir, Universitas Islam Madinah

Sedangkan berdasarkan tafsir beberapa ulama di Universitas Islam Madinah, dinyatakan bahwa ridho dan sabar atas takdir-takdir dari Allah swt adalah dianjurkan, bahkan wajib. Sehingga, hal ini bisa dikatakan lebih mulia.

Maka dari itu, dengan mengucapkan lafadz istirja’, seseorang bisa dikatakan telah ridho dan sabar atas kehendak ataupun takdir dari Allah yang menimpanya. Entah itu kecil ataupun besar.

Itulah beberapa tafsir Al-Baqarah 156 menurut beberapa ulama terdahulu dan saat ini. Hal ini semata-mata untuk menambah wawasan Anda dan supaya senantiasa mengamalkan kebaikan apapun yang diketahui.